Kamis, 23 Desember 2010

I feel like typing!

Setelah bergulat di depan laptop tersayang bernama "lappy", menonton drama korea online (ugghh.. just skip this thing!) akhirnya BLOGSPOT.COM BISA DIBUKA!! alhamdulillah.. itulah nasib pengguna internet di Indonesia, dengan standar kecepatan internet yang amat sangat tidak cepat!! mempersulit mereka yang mempunyai kreatifitas berlebih (bukan saya lohh.. bukan! serius! bukan saya) untuk menyalurkan kreatifitasan mereka ke tempat dimana semua orang di dunia dapat mengakses (sebut saja dunia maya).

2 hari menunggu kapan blogspot.com bisa dibuka dengan sempurna, membuat saya galau! segalau menunggu balesan email sensei mengenai revisi skripsi. mempunyai sebuah blog, dalam kehidupan berselancar di dunia maya, adalah sebuah buku harian ide original untuk saya. saya memang bukan penulis berbakat, tapi saya senang menulis walaupun orang yang abis baca tulisan saya, suka mengernyitkan jidatnya (and said "what the hell is this?!") hahahahha.. well, sebenarnya itu yang sering saya pikirkan (saya tau! su'udzon itu ga baik kok!!)

Tapi yah.. orang memang terkadang tidak percaya diri pada dirinya sendiri, termasuk saya. lalu, sampai kapankah kepercayaan diri itu akan hilang?! kita memang boleh mengatakan bahwa kemampuan kita tidaklah sebagus yang lainnya, tapi tetaplah kita harus percaya dengan diri sendiri, bahwa setidaknya kemampuan yang kita miliki dapat menyamai kemampuan yang lain. bukan bermaksud untuk tidak mau kalah dengan yang lainnya, cobalah berpikir secara positif terhadap pesaing-pesaing anda dalam kehidupan. kita tidaklah harus membenci, tapi jadikanlah hal positif dalam diri pesaing anda sebagai panutan untuk jadi yang lebih baik.

Rabu, 22 Desember 2010

Jumat, 17 Desember 2010

Music Review : Korean band "MATE"




"MATE"
Baru kali ini ada album dari sebuah band yang musiknya serasa layaknya puisi. Bermelodi indah, tidak muluk, jujur, berkualitas tinggi, dan dipadu dengan suara indah sang vokalis yang juga merangkap sebagai keybordis. Entah harus menyebut jenis musik apa yang mereka miliki, dalam situs-situs favorit KPOP musik mereka merupakan musik rock. Apakah hanya sekedar itu? hmm.. menurut saya tidak. Ada faktor X dalam musik mereka yang menjadikan (kalau benar) musik rock begitu indah untuk di dengar.


Well, tak kenal maka tak sayang. Kalau begitu mari berkenalan dengan para pemusik dari grup ini.


Member : Im Heon-il (vocal, guitar)
Date of birth : Nov. 13, 1983
Favorite musicians : Jimmy Hendrix, Led Zeppelin, U2

Member : Jeong Jun-il (vocal, keyboard)
Date of birth : Aug. 16, 1983
Won 2nd place in the 16th Yoo Jae-ha Music Competition

Member : Lee Hyun-jae (drum)
Date of birth : Apr. 12, 1988
Working also as a model




What is noteworthy about this newcomer is that all three members of the group took part in the entire production process. They wrote music and lyrics, played in the band, and even adapted a few pieces. You wouldn’t know that “Be Mate” was their debut album just by listening to the songs. Their music is typified by stylish melody, deeply moving lyrics, and rich, full-scaled sound. This surprisingly talented trio certainly deserves a careful look.




Be Mate (1st album, 2009-04-24)
With Mate (2nd album, 2010-01-20)

Mari kita lihat video mereka, sehingga anda dapat menilai.






SELAMAT MENIKMATI PARA PEMBACA (Jika ada...)

Kamis, 16 Desember 2010

Movie Review: MAGIC (korea, 2010)


Menulis entri ini, sebenarnya adalah suatu pelampiasan saya akan tidak menemukannya OST dari film ini. Sudah jungkir balik di menelusuri youtube, tetap saja hasilnya nihil. Saya jadi bingung mengapa lagu seindah itu tidak ada yang meng-uploadnya di situs video streaming! (kita sudahi saja keluh kesahnya) sekarang saya hanya ingin berbagi pendapat saya tentang film korea yang baru beberapa minggu yang lalu saya tonton, atas rujukan dari teman saya -yang ngefans bgt sm sutradaranya-. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Goo Hye Sun (pastinya para penggemar BBF mengenal siapa dia, atau yang tidak tahu siapa dia, lihatlah foto dibawah ini) Saya akui setelah menonton film ini saya telah menjadi salah satu fans-nya. Dia merupakan aset artis korea yang tidak hanya Jualan tampang dan akting pas-pasan, selain seorang aktris dia juga dikenal sebgai pencipta lagu, penyanyi, sutradara, seniman, dan seterusnya. WOW!


"Magic"

Baca saja dulu resensinya dalam (bahasa inggris) ini. Jika tidak mengerti gunakan adiknya om Google, Google translate (karena saya malas menerjemahkan.)

To Myoung-jin, who is merely a cello student at his music school, Jung-woo is seen as the most brilliant musical genius. When Myoung-jin suddenly receives news to audition alongside with Jung-woo, he asks Ji-eun to be his accompanist. Myung-jin is surprised to learn that Ji-eun has already been asked by Jung-woo to be his accompanist, and to play the same piece at that, but Ji-eun is unable to refuse their touching offers. Come audition day, Jung-woo and Myoung-jin are both unable to audition, due to Jung-woo’s grand mistake. Shortly after, Jung-woo faints while playing Ji-eun’s composition, “Magic,” and Myung-jin has no choice but to continue in his place. As Myung-jin nurses Jung-woo back to health, he gives him musical lessons. As Jung-woo’s health deteriorates, he gradually begins to learn about the depth of “Magic.” Jung-woo asks Ji-eun about the truth of “Magic,” but she hesitates; the more he wavers from Ji-eun to Myung-jin to “Magic,” Jung-woo waxes cynical. Ji-eun, unable to withstand Jung-woo’s change, runs out, but Jung-woo stops her from doing so. Myung-jin, on the other hand, cannot hide his feelings anymore and kisses Ji-eun...

Jujur saja saya memang bukan orang yang cepat tanggap. butuh beberapa saat untuk mencerna suatu hal agar dapat dipahami (yang saya yakin pasti semua orang juga seperti itu). Itulah yang saya rasakan saat menonton film ini. Saya pusing memikirkan mau kemana sebenarnya film ini berjalan. Menerka-nerka hubungan apa yang dimiliki oleh ke 3 tokoh utama. Ya, walaupun ujung-ujungnya it still about LOVE STORY. Tapi yang membuat beda dari film "love story" lainnya, adalah dimana interprestasi penonton amat dibutuhkan disini. Sang sutradara membuat film ini terlihat wajar dan (kalo anak gaul sekarang menyebutnya) ga lebay! intinya keseluruhan film ini memang menyakitkan dan penuh kesenduan akan memendam cinta. Alurnya memang agak lambat, tapi tidak membuat bosan karena membuat kita penasaran sampai akhir. Kata teman saya yang merekomendasikan film ini, endingnya tidak sama sekali terbaca. Tapi saya tidak sepenuhnya setuju, untuk satu hal yang membuat saya kaget, adalah pemeran wanitanya, Ji eun gantung diri pada akhir film. Ya! itu ending yang satu-satunya tidak saya perhitungkan dari awal. selebihnya tetap saja terbaca (walaupun tidak dari awal dapat terbaca)

Pada akhirnya setelah menonton sebanyak 2 kali, saya mengerti pesan yang dimaksud dari film ini. Bahwa memendam cinta memang menyakitkan, apalagi hal yang kita cintai itu hilang selamanya. Satu hal penting yang kita bisa lakukan adalah membuatnya sebagai memori. Hidup itu adalah "Lalu" dan tetaplah maju walau sesekali menengok kebelakang tidaklah mengapa, karena sebuah kenangan tidak selamanya pahit.

WATCH THE TRAILER HERE!

Yang lalu biarlah berlalu


Biarkanlah dia berlalu

Dia selalu saja begitu

Terlalu buruk perangai

Tanpa dia tahu ada saja yang lalu lalang

Apa saja yang telah dilalui

Selalu buruk dan selalu baik

Biarkanlah dia selalu ada di ingatan

Tanpa adanya ikatan melalui hati

words by shabumzki

Hidup adalah LALU bukanlah DAN ataupun AKHIRNYA.

Selasa, 07 Desember 2010

Sekedar Berbagi Cerpen : "JAMES"

 Sudah 2 bulan tidak memposting karena kesibukan skripsi yang begitu menyita waktu dan pikiran. Selagi saya mengirim email untuk dosen saya, apa salahnya lah berbagi cerpen yang saya buat saat saya SMA dan saya jadikan bahan untuk tugas "Telaah Drama" 2 tahun lalu. Saya tidak begitu bangga akan imaji saya yang ditumpahkan dalam tulisan. i'm a bad dreamer! seriously! but, yeah.. i hope you guys like of what i wrote! (if there's any readers there..) ini pertama kalinya saya memperlihatkan hasil imajinasi saya.. (please dont laugh, guys? ^_^)

JAMES


James..
We were always friends..
From a child today..

“Ini lagu gw yo..” kata James tiba-tiba di sore hari itu, dilapangan belakang sekolah. Aryo hanya tersenyum. Baterai walkmannya sudah mau habis, melodi sendu lagu Billy Joel itupun semakin sendu saja didengar. Sesendu sore itu, sore terakhir mereka duduk disana dan setelahnya mereka akan terbebas dari wajib belajar 12 tahun milik pemerintah. Duduk dalam diam bercengkrama dalam hati, mengenang hari-hari bahagia yang mereka lewati bersama sampai saat ini. Disana, dilapangan belakang sekolah itu mereka selalu habiskan waktu berdua, saling menempatkan satu sama lain, bersenda gurau tiada henti. Semua yang mereka pikirkan selalu saja lewat dari mulut mereka, tak ada rahasia untuk disembunyikan bagi mereka. Disamping itu pula selagi disana ada james, maka disana pula ada Aryo dan begitu pula sebaliknya.

“Gue sayang elo yo..” satu kalimat yang terlontar dari mulut James, sontak membuat Aryo kaget sejadi-jadinya. “It isn’t just a love as a brother like we were, gw sayang sama elo.” lanjut James meyakinkan.

Semakin tidak percaya saja Aryo bahwa selama hampir lima tahun ini, James mencintainya. Jadi semua perhatian yang diberikan James kepadanya tersimpan perasaan yang jauh lebih dalam dari pada hubungan persaudaraan yang selama ini mereka gaung-gaungkan. Shit! maki Aryo dalam hati. Pantas saja setiap Aryo ingin menjodohkannya dengan perempuan dia selalu menolak. “gw lagi ga tertarik untuk pacaran dulu yo!” katanya. Tapi semua itu sudah jelas sekarang, James telah memilih untuk mencintai jenisnya, dan hal yang lebih menyakitkan lagi mengapa harus Aryo.

“Kena..pa…….” Aryo mulai berujar pelan “musti….” berhenti sejenak berusaha meyakinkan dirinya apa yang akan dia katakan adalah benar. Atau hanya sekedar pembelaan diri Aryo terhadap keadaan yang sudah memasung dia selama hampir sepuluh menit ini. Sepuluh menit yang menyiksa. “Gue?” Aryo menyelesaikan kalimatnya dan kali ini nadanya meninggi. Kemarahan yang selama ini dia anggap hal yang salah menjadi benar, dia harus membela diri, dia tidak mau menjadi “si korban”, dia terlalu pengecut.

“sejak kapan?” tanya aryo akhirnya.
“4 tahun yang lalu.” jawabnya.
“gw jg ga nyangka yo, gw kira gw normal. tapi sejak ada lo gw punya semangat untuk hidup. lo itu cahaya buat gw, cuma lo yang bikin gw ga ngerasa sakit.” Aryo diam tanpa kata. “gw berusaha untuk ngelupain demi persahabatan kita, tapi gw ga bisa. semakin gw lupain dada gw semakin sakit, malah perasaan itu tambah muncul, tambah besar, dan malah tambah bikin gw nyaman.”

Muka Aryo merah padam, ingin rasanya Aryo berteriak sejadi-jadinya saat itu. Penyesalan telah mengenal James menguak sudah, muak rasanya ada disitu, di keadaan seperti itu dengan orang yang selama ini dia banggakan. Tangannya mengepal seperti ingin memukul, tapi bukan James yang dia pukul, hanya karpet rumput yang dia duduki yang dia pukul. Kesabarannya sudah sampai dipuncaknya. Cukup baginya mendengar alasan dari James.

“ lo tau kan gw bakal berangkat ke australia? hhmm?” Aryo memulai lagi, mulai tidak sabar. Tanpa tahu apa yang harus dia bicarakan, pikirannya terlalu kacau.
“ ga ada dalam pikiran gw untuk memenuhi kemauan lo mie. kali ini gw ga bisa.”
“cukup” lanjut Aryo.
“jangan hubungi gw lagi Jamie. please. gw perlu waktu.” Akhirnya kata-kata itu muncul dari bibir Aryo yang lembut. Kalimat itu merupakan kalimat paling menyakitkan yang pernah dikatakan Aryo kepada James. Aryo pun menyabet tasnya dan melenggang pergi meninggalkan James sendiri.
“tapi gw ga punya waktu lagi yo.”

Sesaat Aryo pergi, disana, dilapangan belakang sekolah James terbaring miring sambil memegangi dadanya. Diam, tak bergerak, tak bernapas, lagi.

***
15 tahun sejak kejadian itu, Aryo tidak pernah memaafkan dirinya. Lelaki tampan blasteran itu telah tiada karena dia telah mengatakan kata-kata perpisahan yang teramat sakit untuk diingat. Penyakit kelainan jantung milik James saat itu sudah mencapai akut, kalau saja Aryo memberi kesempatan James untuk melanjutkan apa yang dia maksud, mungkin James akan mendukung Aryo sekarang. Duduk di ruang tunggu rumah sakit, menunggu bersama orang tua dan mertuanya akan kelahiran anak pertamanya. Jika James masih ada, dia mungkin akan duduk di sebelahnya memegangi pundaknya, memberi semangat dan menenangkannya atas kegelisahan yang menjadi-jadi. Jika saja 15 tahun yang lalu Aryo tidak pergi begitu saja, James mungkin masih hidup.

Ya, 15 tahun yang lalu James akan menjalani operasi jantungnya. Pada hari itu. Hari dimana Aryo meninggalkannya. James hanya ingin Aryo disebelahnya, menjadi saksi semangat hidup James melawan penyakit yang selama bertahun-tahun menggerogoti badannya. Hanya itu yang sebenarnya James mau.

Pintu ruang UGD terbuka kasar seperti ada yang membuka pintunya dengan keras tanpa belas kasihan. Derap langkah cepat mendekati ruang tunggu, suster itu seperti kehabisan napas saat menyampaikan hasil operasi sesar dan kelahiran sang bayi. Istrinya selamat begitupun juga dengan si bayi.

“laki-laki pak. selamat.” kata si suster.

Sontak semua yang ada di ruang tunggu itu berjalan cepat, Aryo berada dipaling depan diikuti mertua dan orang tuanya. Sesampainya di ruang persalinan, matanya langsung tertuju ke sang istri yang masih tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius, lalu matanya liar mencari dimana keberadaan si bayi. Suster yang lain memberi tanda bahwa bayinya ada padanya, Aryo mengahampirinya dengan hati-hati, sisuster menyerahakan bayinya. Betapa bahagianya hidup Aryo sekarang, perasaanya meluap-luap, seperti perasaan saat dia bertemu James 20 tahun yang lalu. Perasaan seperti dia telah menemukan dirinya kembali.

“akan diberi nama siapa pak?” tanya si suster.
Aryo diam sejenak, berpikir, sesaat senyumpun merekah dibibirnya.
“James.” katanya yakin.

THE END